Sebelum Tottenham Hotspur merayakan kemenangan Liga Europa mereka musim lalu, mereka mengalami beberapa momen terpuruk yang paling mencolok adalah kekalahan pahit 1-0 dari Bournemouth pada Desember lalu. Hasil ini membuat bahkan fans paling optimis pun bertanya-tanya apakah mereka telah mendukung tim yang “rapuh seperti teko cokelat” tanpa sadar. Sebaliknya, Bournemouth di bawah asuhan Andoni Iraola sedang menikmati posisi nyaman di tengah klasemen, menunjukkan pendekatan yang tenang dan fleksibel yang terasa sangat berbeda dari filosofi serangan total agresif ala Ange Postecoglou.
Awal Menjanjikan untuk Musim 2024/25
Spurs memulai musim 2024/25 dengan penampilan yang menggemparkan, ditandai dengan:
- Kemenangan telak 4-1 atas Aston Villa
- Kemenangan sensasional 4-0 atas Manchester City
- Kejutan di Piala Carabao
Namun, di tengah-tengah momen-momen cemerlang ini, Tottenham tersandung dengan hasil-hasil memalukan, termasuk kekalahan dari Ipswich dan hasil imbang yang mengecewakan melawan Fulham. Pukulan terakhir datang di Vitality Stadium, di mana fans mengekspresikan kekecewaan mereka secara bersama-sama. Banyak yang bahkan sempat membayangkan Iraola mengambil alih kendali di Spurs, semakin memperkuat atmosfer frustasi di tribun penonton.
Reaksi Pasca-Pertandingan
Setelah pertandingan, Ange mendekati para pendukung yang hadir dengan gaya seorang showman, memberi isyarat untuk tetap tenang. Dia mengangguk dengan penuh keyakinan dan meletakkan tangannya rata di atas lapangan—pada dasarnya menyampaikan, “Tenang, aku bisa atasi ini.” Ketika ditanya tentang frustrasi para fans, dia berkelakar, “Mungkin bukan untuk dibahas di sini, kawan,” sebelum berjanji untuk “terus berjuang sampai kami mendapatkannya dengan benar.”
Musim Naik-Turun
Hampir tak ada kelegaan setelah pertemuan itu. Spurs secara mengejutkan menyerahkan keunggulan 2-0 kepada Chelsea, akhirnya kalah 4-3 saat rival mereka menikmati keruntuhan tersebut. Seiring berjalannya musim, Tottenham menemukan diri mereka di posisi 17 rekor terendah dalam Premier League dan perjalanan mereka di Piala Carabao dan Piala FA pun berakhir dengan cepat.
Comeback Bersejarah
Namun, pada Mei, Postecoglou merancang salah satu comeback terhebat dalam sejarah Premier League. Spurs mengangkat trofi Liga Europa yang selama ini sulit diraih setelah mengalahkan Manchester United dalam pertarungan menegangkan di Bilbao. Di sana dia berdiri, merayakan dengan kepalan tangan di depan kerumunan—mungkin mencari orang-orang tercinta atau fans yang sama yang telah menyuarakan kekecewaan mereka enam bulan sebelumnya. Bagaimanapun juga, momen itu pasti terasa seperti menemukan jarum di tumpukan jerami Spurs!
Kesimpulan
Perjalanan Tottenham Hotspur musim lalu adalah bukti ketangguhan dan sifat sepak bola yang tak terduga. Dari kekalahan pahit hingga kemenangan spektakuler, Spurs telah menunjukkan bahwa apa pun mungkin terjadi dalam permainan indah ini.