West Ham memulai musim dengan langkah yang benar-benar goyah, membuat para penggemar dan pemilik klub jadi cemas. Dengan hanya satu kemenangan dari enam pertandingan pertama di semua kompetisi, klub akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan Graham Potter pada akhir bulan lalu. Rasanya seperti pihak manajemen hampir saja membagikan medali partisipasi daripada surat pemecatan, hehe.
Manajemen Baru, Masa Depan yang Masih Tanda Tanya
Nuno Espírito Santo, sosok dengan reputasi bagus dari jabatan sebelumnya, kini mengambil alih posisi manajer. Tapi yah, empat pertandingan pertamanya bersama West Ham belum menghasilkan kemenangan sama sekali. Wah, makin gak enak dong perasaan para pendukung setia klub ini ya!
Boikot yang Bikin Pesan Kuat
Banyak penggemar memilih untuk boikot pertandingan melawan Brentford akhir Oktober lalu, yang mengakibatkan sekitar 20.000 kursi kosong di London Stadium. West Ham tidak cuma kalah 2-0, tapi mereka juga memilih untuk tidak mengumumkan jumlah penonton resmi, seolah-olah pemindai tiket mereka tiba-tiba hilang begitu saja. Absennya begitu banyak pendukung ini jelas merupakan pesan ketidakpuasan yang sangat keras.
Dampak Ekonomi dari Protes Penggemar
Stefan Borson, mantan penasihat keuangan di Manchester City, memperkirakan bahwa kerugian langsung dari ketidakhadiran penggemar sebenarnya relatif kecil, mungkin kurang dari satu miliar rupiah, terutama karena banyak yang hadir adalah pemegang tiket musiman. Tapi dampaknya lebih dari sekadar uang lho.
“Ketika klub sedang krisis, gejolak di atas mempengaruhi performa di lapangan,” kata Borson. Para pemain bermain terbaik saat suasana tenang; ketidakpastian di tribun bisa mengganggu performa sama seperti banyaknya cedera.
Posisi Liga yang Memprihatinkan
Saat ini, West Ham berada di posisi kedua dari bawah di Liga Primer, tertinggal empat poin dari zona aman setelah sembilan pertandingan. Ketidakpuasan penggemar sudah memuncak sejak mereka berkumpul di luar stadion sebelum pertandingan melawan Crystal Palace September lalu. Para pendukung menuntut agar pemegang saham utama David Sullivan dan wakil ketua Karren Brady mundur. Entah apakah protes ini mengguncang para pengambil keputusan, tapi jelas menunjukkan semakin lebarnya jurang antara penggemar dan petinggi klub.
Harapan untuk Perubahan
Perubahan jelas dibutuhkan, dan meski klub telah berpisah dengan manajer sebelumnya, Nuno datang dengan reputasi yang menjanjikan perbaikan. Tapi sepak bola adalah permainan yang tipis batasnya, dan kepercayaan diri adalah hal paling rapuh yang dimiliki sebuah tim. Saat Hammers bersiap menjamu Newcastle United di London Stadium hari Minggu ini, para penggemar berharap ada perubahan momentum yang sangat dibutuhkan. Kalau tidak, 20.000 kursi kosong itu mungkin akan segera digantikan oleh 20.000 kardus penonton tiruan, membuat stadion terlihat makin menyedihkan. Aduh, jangan sampai deh ya!