Jadon Sancho tiba di Villa Park musim panas ini dengan harapan yang melambung tinggi, tapi yah, jujur saja, dia belum bikin gebrakan apa-apa di Liga Inggris. Si pemain sayap berusia 25 tahun ini dipinjam selama semusim dari Manchester United, tapi mencari kesempatan bermain ternyata nggak segampang membalikkan telapak tangan. Ketika dapat kesempatan main, dia masih kesulitan memberikan kontribusi yang bikin beda untuk tim. Rasanya kayak dia ninggalin ‘sihir’ bermainnya di Manchester deh.
Harapan Awal dan Tantangan
Perjalanan Sancho musim ini dimulai dengan optimisme. Setelah tampil oke di Chelsea dengan lima gol dan delapan assist dalam 41 pertandingan, dia ‘diselamatkan’ dari apa yang disebut “skuad bom” United oleh manajer Ruben Amorim. Meski performanya lumayan, baik Amorim maupun Enzo Maresca nggak cukup yakin untuk mempertahankannya secara permanen di Stamford Bridge. Akibatnya, United memanggilnya kembali, hanya untuk dipinjamkan lagi, kali ini dengan harapan dapat waktu bermain reguler.
Dengan kontraknya yang akan berakhir musim depan, ada bisik-bisik bahwa United mungkin akan melepasnya secara gratis. Ini bisa jadi akhir yang mengejutkan dari hubungan lima tahun yang jarang mencapai potensi sebenarnya.
Situasi Saat Ini di Villa
Di Villa, keadaan Sancho nggak membaik. Dia duduk di bangku cadangan saat kemenangan 3-1 atas Fulham, tapi sakit memaksanya absen dari pertandingan penting, termasuk perjalanan Liga Europa ke Feyenoord dan pertandingan liga melawan Burnley. Selama masa pemulihannya, dia berlatih sendirian, yang membatasi waktu bermainnya.
Sampai saat ini, Sancho baru main delapan menit di Liga Inggris, dengan satu-satunya pertandingan sebagai starter terjadi bulan lalu saat kemenangan Carabao Cup atas Brentford. Fans mulai membandingkannya dengan pemain seperti Marcus Rashford dan Marco Asensio, yang langsung bikin impact setelah bergabung. Perbandingan ini bikin banyak pendukung bingung kenapa Sancho terus-terusan nggak masuk dalam line-up utama pilihan Unai Emery.
Ketika Emery akhirnya memberinya waktu bermain melawan Brentford, dia menekankan pentingnya jam terbang dan kepercayaan diri bagi pemain yang datang terlambat. Namun, sedikit yang yakin bahwa menit-menit terbatas ini akan cukup untuk mengeluarkan kualitas yang dulu membuat Sancho menjadi salah satu penyerang muda paling diincar di Eropa.
Sisi Positifnya
Untungnya bagi Villa, rekan setimnya Emi Buendía lagi on fire. Dia sudah mencetak dua gol dan satu assist dalam sembilan pertandingan, terbukti jadi game-changer melawan tim seperti Fulham dan Feyenoord. Namun, dengan Villa kabarnya membayar biaya besar untuk mendapatkan pinjaman Sancho, tuntutan hasil instan jadi sangat tinggi.
Kesimpulan
Waktu terus berjalan bagi mantan bintang Dortmund ini untuk menemukan kembali performa terbaiknya dan membuktikan kepercayaan yang Villa berikan padanya. Kalau dia gagal meningkatkan performanya, mungkin dia harus mempertimbangkan apakah sepak bola masih menjadi kesenangan atau malah jadi cara mahal untuk tetap bugar. Waktu akan menjawab apakah Sancho bisa membalikkan keadaan dan membuat nama besar untuk dirinya di Villa Park.