Pendukung Tottenham punya banyak hal yang bikin pusing setelah kalah telak 4-1 melawan Arsenal, apalagi setelah menyaksikan Eberechi Eze mencetak hat-trick. Meski gol jarak jauh Richarlison yang super keren sempat memberi secuil kegembiraan, itu cuma seperti pemanis saja. Banyak fans Spurs yang bercanda bahwa mereka sekarang bisa menambahkan “tertinggal dua gol” ke daftar kenangan buruk dari kunjungan mereka ke utara London.
Rentetan Tanpa Kemenangan
Kekalahan ini membuat Spurs tidak menang dalam tiga pertandingan beruntun di Liga Inggris, yang bikin mereka melorot ke posisi sembilan. Rasa frustasi di kalangan fans juga makin menjadi-jadi. Obrolan di tribun dan forum internet banyak membahas pertanyaan krusial: kenapa sih manajer Thomas Frank masih ngotot pakai duet gelandang Rodrigo Bentancur dan João Palhinha, yang jelas-jelas kewalahan menghadapi pressing tinggi Arsenal?
Kesalahan Taktik
Ini adalah derby liga pertama Frank sebagai pelatih, meskipun sebelumnya dia pernah memimpin tim meraih kemenangan pra-musim berkat gol telat dari Pape Matar Sarr. Anehnya, Sarr justru diparkir di bangku cadangan selama pertandingan kemarin sementara Bentancur, yang baru saja perpanjang kontrak, dipasangkan dengan Palhinha. Banyak fans yang garuk-garuk kepala melihat keputusan ini. Seorang suporter bahkan mengibaratkan tetap mempertahankan duet itu seperti pakai sarung tangan wol di perang air—protektif tapi nggak praktis sama sekali.
Para kritikus berpendapat bahwa kombinasi Bentancur-Palhinha membunuh kreativitas. Tanpa gelandang yang bisa membawa bola maju atau mendukung para penyerang, Spurs tampak selalu tertekan. Makin banyak seruan untuk pendekatan yang lebih dinamis, dengan saran memasukkan pemain seperti Sarr, Sonny Bergvall, atau Manor Solomon. Pemain-pemain ini sudah memperlihatkan energi, kecepatan, dan ancaman gol di pertandingan sebelumnya, yang membantu meningkatkan performa keseluruhan tim.
Butuh Perubahan
Meski Frank bisa mempertimbangkan untuk beralih ke formasi lima bek atau 4-2-3-1, para pendukung menekankan bahwa tidak ada susunan taktis yang akan bertahan dari intensitas Liga Inggris tanpa rencana solid untuk melewati pressing lawan. Tetap bertahan dengan duet gelandang yang murni defensif dianggap sebagai jalan buntu taktis.
Jika Tottenham ingin mendapatkan momentum lagi dan naik kembali ke enam besar, fans percaya Frank harus mempertimbangkan ulang pilihan gelandangnya. Bagaimanapun, sepak bola dimainkan di rumput, bukan di pasir; butuh pergerakan, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko.
Menatap ke Depan
Mari berharap susunan pemain derby berikutnya membawa beberapa kejutan alih-alih duet gelandang yang itu-itu lagi. Kalau tidak, pada saat Spurs akhirnya menemukan ritme mereka, mungkin mereka malah tergoda untuk memadati lini tengah dengan tiga nomor sepuluh—sekadar untuk bikin semua orang bingung.