Takdir Piala Dunia Inggris Terjaga di Ujung Tanduk: Pertaruhan Terakhir Tuchel?

Upaya Inggris untuk langsung ngebut di bawah asuhan Thomas Tuchel di awal 2025 malah terasa seperti joging santai—tapi bukan yang asyik-asyik itu lho. Kekalahan 3-1 dari Senegal di bulan Juni jadi alarm keras, menunjukkan tim ini kurang punya gaya keren yang didambakan fans. Bahkan penggemar paling optimis pun mungkin mikir dua kali sebelum mendukung hasil itu.

Tugas Jelas dan Harapan Tinggi

Tuchel menggantikan Gareth Southgate dengan misi yang gamblang: mengakhiri puasa gelar Inggris dengan menjuarai Piala Dunia di Amerika Serikat tahun depan. Masa jabatan Southgate diwarnai kekalahan menyayat hati di dua final berturut-turut Euro 2020 dan 2024. Fans berharap suara baru dan kepintaran taktik akhirnya bisa membawa sepak bola pulang kampung.

Meski memimpin grup kualifikasi, keraguan masih mengudara. Kemenangan 2-0 atas Andorra pada 6 September rasanya semenarik nonton cat mengering—efektif sih, tapi bikin nguap. Dalam konteks ini, mantan striker Inggris Darren Bent melempar bom: bahkan jika Tuchel berhasil membawa pulang trofi impian, FA mungkin pilih untuk tidak memperpanjang kontraknya yang relatif singkat 18 bulan.

Debat Gaya vs Hasil

Pernyataan berani Bent membayangkan skenario di mana Inggris menjuarai Piala Dunia dengan gaya “bertahan mati-matian”, hanya untuk kemudian diucapkan terima kasih dan diminta angkat kaki. Terdengar kejam memang, tapi menurutnya ada preseden: Gareth Southgate juga menghadapi seruan pemecatan, bahkan sebelum mimpi juara menjadi nyata.

Perdebatan antara gaya dan hasil bukanlah hal baru:

  • Pendukung Gaya: Bersikeras Inggris harusnya mendominasi lawan yang lebih lemah dengan permainan cantik.
  • Kaum Pragmatis: Percaya bahwa trofi, bagaimanapun caranya, adalah tujuan utama.

Bent menegaskan bahwa hasil sering kali mengalahkan estetika. Kesabaran bangsa, tak peduli selama apapun dahaga akan trofi, bisa menipis jika kemenangan tak dihiasi keseruan.

Waktu Tuchel Semakin Sempit

Ketika Tuchel ditunjuk musim gugur lalu, dia berkelakar bahwa dia dan FA akan “duduk bareng dan lihat” apakah rencananya berbuah, bahkan bercanda soal mengembangkan “permainan jangka panjang.” Namun, penampilan meyakinkan masih langka, dan waktu kian menipis.

Tantangan berikutnya untuk Inggris adalah kualifikasi sulit melawan Serbia pada hari Selasa. Penampilan dominan—bahkan dalam hasil imbang—bisa meningkatkan reputasi Tuchel jauh lebih baik daripada kemenangan terseok-seok lainnya. Dan siapa tahu? Jika sepak bola Inggris akhirnya mirip masakan nenekku—agak berantakan tapi anehnya memuaskan—fans mungkin bakal pulang dengan senyum terkembang di wajah mereka.

Scroll to Top